Sejarah pengelolaan

Letak kemuning yang terpelosok dari kampung-kampung lainya, menjadi sumber permasalah utama disini. Kemuning terus mengalami ketertinggalan dari berbagai aspek, pada akhirnya pernah ditetapkan sebagai daerah terisolir dan daerah tertinggal. Stigma dipikiran masyarakat terus bermunculan, bahwa mereka tidak akan bisa  berkembang ataupun sukses di tempat seperti ini. Sejak saat itu orang mulai berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan diluar dari pada harus mengembangakan tanah kelahiran mereka, dan tradisi ini terus berjalan sampai sekarang. Lebih buruknya lagi, urbanisasi didominasi oleh pemuda dan pemudi dusun. Yang seharusnya merekalah tulang punggung disini untuk memajukan tempat ini, mereka kurang berani untuk mengambil resiko dan memilih mencari perekonomian yang stabil.

Dari berbagai permasalahan, Kemuning selanjutnya merumuskan cara untuk keluar dari zona itu. Lahirlah beberapa tokoh yang memiliki keberanian untuk memulai pergerakan. Mereka melihat potensi yang ada saat itu ialah telaga. Dari telaga yang semula hanya dijadikan tempat mencuci, mandi, dan lain-lainya. Mereka mencoba untuk melepaskan ikan ditelaga, untuk selanjutnya diolah sebagai tempat pemancingan. Dan beberapa tahun kemudian mendapat respon positif dari kalangan masyarakat luar. Masyarakat luar mulai tau tentang kemuning, perekonomian masyarakat mengalami peningkatan.

Pada tahun 2012, Masyarakat Kemuning berinovasi lagi untuk merubah kegiatan ini kedalam bentuk kepariwisataan dan memunculkan potensi-potensi baru. Kelompok sadar wisata pun terbentuk. Kurun waktu 1 sampai 3 bulan antusias masyarakat luar cukup baik. Namun karena berbagai faktor, pada bulan ke 6 kelompok sadar wisata mengalami stake. Dan masyarakat kembali lagi ke cara sebelumnya.

Tahun 2018 akhir, muncul isu kegiatan kepariwisataan yang akan dibenahi kembali. Hal ini menimbulkan gejolak di masyarakat, bayang-bayang masa lalu dari golongan tua dijadikan alasan penolakan kegiatan kepariwisataan. Tetapi karena adanya sosialisasi, pendekatan masyarakat, pemahaman masyarakat tentang pariwisata. Akhirnya masyarakat open kembali dan mendukung kegiatan ini. Melalui kegiatan pariwisata yang memiliki dampak multiguna ini diharapkan dapat menyelesaikan berbagai permasalah di Kemuning.

Beberapa hari  berselang kelompok sadar wisata dibentuk ulang dengan beberapa wajah- wajah baru di dalamnya. Tahun ini lewat kegiatan kepariwisataan peranan pemuda sangat diharapkan. Belajar dari kesalahan sebelumnya, pendampingan dari berbagai pihak, berkembangnya ekonomi kreatif sebagai pendukung kepariwisataan, menjadi kelompok sadar wisata “Oase Gunungsewu Kemuning” berkembang pesat. Hingga akhirnya, pada tanggal 3 februari 2020, Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul resmi mengesahkan bahwa kemuning memiliki kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang diakui pemerintahan melalui surat keputusanya.

Branding Oase Gunungsewu kemuning, diambil karena zaman dulu. Gunungsewu adalah pegunungan yang gersang dan tandus, sedangkan kemuning memiliki telaga yang tidak pernah habis airnya dan lingkungan sekitar yang hijau. Sehingga diilustrasikan seperti oasenya digurun pasir.

 

Peresmian Pokdarwis #1

 

( https://www.majalahburungpas.com/warta-daerah/wisata-telaga-kemuning-gunungkidul-di-dengan-potong-tumpeng-dan-pita.html )

Pokdarwis Yang Sekarang #2